Short Story · story

Keep Personal Things, Personal

Siang ini matahari bersinar terik, membuat dahi seorang perempuan berambut sebahu basah oleh keringat. Ia tengah duduk di sebuah kedai kopi sederhana yang alat pendinginnya rusak, menambah satu lagi butiran keringat di dahinya. Mata kecoklatan itu terpaku pada ponsel genggam. Tangannya yang bebas mengaduk-aduk gelas di hadapannya. Es batu pada minumannya sudah mencair bercampur dengan espresso yang dipesannya 30 menit yang lalu.

Update, kata anak muda jaman sekarang. Perempuan ini sedang sibuk membalas komentar pada status yang barusan dipostingnya di Facebook. Wajahnya ditekuk, ekspresinya serius dan terlihat kesal. Orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya tak dapat mengalihkan perhatian perempuan itu dari layar ponselnya.

Sebuah komentar mengganggunya, menjadi alasan wajahnya yang tertekuk. Ia biasanya mengabaikan komentar yang tak disukainya, tapi tidak dengan yang ini. Tangannya gesit memencet satu per satu huruf di layar ponsel touchscreen keluaran terbarunya. Beberapa kali ia menghapus teks yang telah ditulisnya, kemudian menyusunnya kembali agar kata-katanya dapat “melawan” komentar yang mengganggunya itu.

Nama salah satu sahabatnya tertera di kolom komentar itu. Ya. Dia sedang “berperang” dengan sahabatnya di muka umum. Masalahnya sepele, sahabatnya memundurkan jadwal pertemuan mereka. Perempuan berambut sebahu yang sudah terlanjur datang ke tempat pertemuan merasa kesal. Mendadak, alasan kekesalannya. Ia kemudian memposting “kekesalannya” pada salah satu akun media sosialnya.

Merasa tersindir, sahabatnya memberikan sebuah komentar yang membuat pitam perempuan berambut sebahu semakin naik. Isi gelasnya yang sudah setengah habis diseruputnya dengan galak. Menyiram sedikit bara api yang tengah memenuhi hati dan pikirannya.

Ia bangkit dari kursinya. Berjalan dengan kesal menuju kasir. Menyerahkan beberapa lembar uang, kemudian meninggalkan kedai kopi itu.

***

Satu minggu…

1 bulan…

3 bulan…

1 tahun…

Waktu telah berlalu setelah “peperangan” itu terjadi. Tak sekalipun ia bertegur sapa kembali dengan sahabatnya. Kabar pun, ia hanya mendengarnya dari orang lain. Semua komunikasi telah terputus antara perempuan berambut sebahu itu dengan sahabatnya. Masalah kecil menjadi besar karena kekesalan sesaat.

“Aku tidak akan marah kalau kamu langsung menumpahkan kekesalanmu padaku, bukan malah mengumumkannya di muka publik,” menjadi teks terakhir yang diterima perempuan berambut sebahu itu dari sahabatnya. Setelah itu, tidak ada lagi teks dan percakapan, bahkan sapaan saat bertemu pun tak pernah mereka lakukan.

Padahal dahulu, mereka penguat satu sama lain. Saling mentertawakan kebodohan masing-masing. Lelucon kecil pun terkadang menjadi tertawaan besar bagi mereka. Namun sekarang, percikan kecil dapat menjadi masalah dan amarah bagi mereka berdua. Semuanya tak sama lagi. Semuanya berubah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s