Opinion

But First, Let Me Post This Moment

Post

Beberapa tahun belakangan ini peningkatan teknologi makin bergerak cepat, terutama teknologi informasi dan komunikasi. Banyak inovasi baru yang muncul didukung oleh roda produksi yang berputar cepat. Alat komunikasi dan elektronik makin canggih. Banyak perusahaan yang ngeluarin produk dengan model dan fitur baru tiap tahunnya. Internet dan isinya makin berkembang dan tumbuh. Penggunanya juga makin meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Buat anak-anak muda, kemajuan teknologi ini merupakan hal yang menggembirakan, karena anak muda itu sangat peka sama perubahan dan cenderung lebih gampang menyesuaikan diri. Mereka bisa manfaatin kemajuan teknologi buat bikin hal baru. Tapi, nggak semua anak muda bisa manfaatin kemanjuan teknologi buat hal-hal positif. Banyak juga yang manfaatin buat ngelakuin tindak kejahatan (cybercrime).

Belakangan ini banyak beredar berita tentang tindak kejahatan yang dimulai dari media sosial. Inilah salah satu contoh sisi gelap dari kemajuan teknologi. Pertanyaannya adalah bagaimana bisa melakukan kejahatan melalui media sosial? Jawabannya gampang, karena hampir semua informasi tentang seseorang bisa didapetin lewat internet, terutama lewat media sosial.

Sekarang ini kalau nggak punya akun media sosial rasanya nggak kekinian. Kebanyakan anak-anak muda sekarang punya banyak akun media sosial, bahkan satu media sosial pun bisa punya banyak akun; satu akun buat pencitraan, satu buat kepo (biasanya pake nama samaran), satu buat jualan, satu lagi yang isinya quote, dan satu lagi buat posting lelucon.

Nggak semua media sosial isinya anak muda, karena orang-orang dewasa yang usianya paruh baya bahkan lanjut usia pun sekarang punya akun media sosial. Dan kadang hal ini malah bikin anak-anak muda lebih hati-hati buat posting ke media sosial mereka karena takut ketauan orang tua mereka yang juga mainan media sosial. Kadang juga ada anak yang malu karena orang tuanya terlalu update di media sosial, karena sekarang ini istilah alay (perilaku yang dianggap berlebihan dan selalu berusaha menarik perhatian) nggak cuma buat remaja, tapi udah digeneralisasi buat siapapun yang perilakunya berlebihan.

Di internet (termasuk di dalamnya adalah media sosial) membebaskan siapapun buat mengekspresikan diri. Tapi kadang kebebasan ini jadi kebablasan. Banyak orang yang sekarang lebih suka mencurahkan isi hatinya di media sosial dibandingkan menceritakannya ke orang-orang terpercaya. Padahal orang-orang yang komentar atau like di media sosial belum tentu peduli, kadang mereka cuma penasaran, kepo.

Nggak cuma masalah pribadi aja yang sekarang diumbar-umbar ke media sosial, hal-hal lain yang harusnya nggak dishare pun jadi konsumsi publik. Contoh yang pernah aku liat sendiri adalah waktu salah satu saudaraku posting foto dirinya sama mbak putriku yang lagi nggak pake jilbab. Padalah dalam Islam udah ada aturannya kalau wanita harus nutup auratnya. Waktu pertama kali liat postingan itu, aku ngerasa bahwa itu salah, tapi pas liat yang posting adalah saudaraku yang notabene lebih pinter secara intelektual dan agama, aku jadi ragu “apa mungkin aurat orang tua beda sama aurat remaja dan paruh baya?” Di tengah keraguanku, aku coba searching di internet tentang aurat orang yang udah tua dan tanya-tanya ke orang yang lebih ngerti agama dari aku, dan hasilnya emang beda. Orang yang udah tua lebih punya keringanan dalam hal bahan pakaian. Maksudnya, aurat orang tua SAMA saja dengan kita semua, kecuali kain yang dipakainya. Kain yang dipakai orang yang udah tua nggak harus tebal, yang penting masih menutup auratnya.

Contoh lainnya dari aku sendiri. Dulu, waktu pertama kali punya akun facebook (media sosial pertama yang aku punya), aku juga alay. Apa-apa serba diposting; dari telat bangun pagi, terlambat berangkat sekolah, kegiatan di sekolah, sampai kegiatan-kegiatan kecil yang rasanya nggak perlu semua orang tau. Lagi seneng, lagi sedih, lagi marah, semuanya diposting di media sosial. Pernah juga suatu hari aku berantem sama temen karena postingan-ku di media sosial. Duuuuh, rasanya malu waktu liat postingan-postingan nista itu.

Pelajaran yang bisa diambil dari contoh-contoh di atas adalah bahwa nggak semua hal bisa dishare atau diposting di internet, di media sosial. Emang sih kita semua punya hak untuk berekspresi tapi jangan sampe kebablasan lah. Jangan apa-apa serba diposting, apa-apa serba dishare demi keliatan “hebat” di mata orang lain atau demi dapet pujian. Pilah-pilah mana yang baik dan bener dan mana yang nggak pantes buat diposting. Kalau bisa, bikin posting-an atau share hal-hal yang bermanfaat buat diri sendiri dan juga buat orang lain. Hindari posting hal-hal yang mengandung unsur hatespeech dan keep personal things, personal. Jangan sampe postingan di media sosial jadi pemecah belah pertemenan, persahabatan, bahkan kekeluargaan. Karena kasus kayak gini aku alamin sendiri, DULU, waktu jaman jahiliyah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s